Wednesday, 24 October 2018

Menjangkau suatu Pemikiran Melalui Filsafat
(Deden Hidayat)

Perkuliahan Filsafat dilaksanakan setiap hari selasa, pukul 07.30 sampai dengan 09.10 diruang I.02.4.01.02 gedung Unggul Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Perkuliahan pertama dibuka dengan perkenalan Bapak Marsigit sebagai dosen mata kuliah filsafat ilmu ekaligus Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau kemudian mengajak mahasiswa untuk membuka handphone dan mengarahkan mahasiswa untuk membuka mesin pencarian Google. Pada google mahasiswa kemudian disuruh mencari nama  dan lokasi rumah dari Pak Marsigit. Setelah itu beliau mengatakan hal tersebut menandakan bahwa Pak Marsigit benar-benar ada dan nyata.
Selanjutnya memasuki pembicaraan mengenai filsafat, filsafat dapat dipelajari dimanapun dan kapanpun kita berada. Kemudian beliau mengarahkan untuk membuka youtube untuk mencari video berjudul Rembulan Kekalang UNY. Pada video tersebut ada unsur tarian, politik, seni rupa, suara dan lainnya yang semuanya membahas mengenai dari berbagai sisi  baik maupun buruk. Beliau mengingatkan bahwa dalam filsafat diriku adalah diriku dan dirimu adalah dirimu. Filsafat itu semua yang ada dan yang mungkin ada dalam kehidupan kita, hal yang dianggap tidak penting bisa menjadi awal dari ilmu filsafat. Oleh sebab itu agar dapat memahami filsafat harus banyak membaca, karena sebenar-benarnya berfilsafat adalah pikiran kita.
Filsafat merupakan olah pikir maka yang mungkin ada dimaksudkan yang ada dalam pikiran. Objek filsafat bisa disebut juga objek formal dan objek material. Maka sebenar-benar berfilsafat, sebenar-benar olah pikir dan sebenar-benar orang belajar adalah mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran. Kita mengetahui sedikit yang ada dalam pikiran kita, satu diantara semiliar pangkat semiliar dari keseluruhan yang mungkin ada yang bisa kita pikirkan.
Di bawah filsafat itu ada psikologi wacana. Psikologi sendiri itu bisa bermacam-macam, bisa psikologi terapan, atau yang lainnya. Pada psikologi wacana kita bisa menggali potensi-potensi apa yang baik untuk diri kita dan baik untuk diri orang lain. Bisa berawal dari yang paling sederhana saja, misalnya nama. Kita bisa memaknai nama kita sendiri. Orang yang berpendidikan, orang yang mengerti masa depan, orang yang mengerti adat itu membuat nama pasti punya maksud, punya aturan, dan tidak sembarangan atau tidak asal. Tidak hanya sekedar mencari sesuatu yang fenomenal. Ada pula nama-nama yang sensasional, tetapi itu menentang arus, menentang kebenaran, dan menentang nurani, karena itu semua menyangkut tentang etik dan estetika.
Pak Marsigit menanyakan nama salah satu mahasiswa, mahasiswa tersebut bernama Rindang. Nama Rindang memiliki arti sejuk, dingin, terlindung dari matahari, jika dalam istilah Jawa bermakna iyup atau teduh. Pak Marsigit kemudian menjelaskan arti nama beliau, baik secara klasik maupun kontemporer. Nama Marsigit secara klasikal menurut pembagian suku kata Mar dan Sigit, Mar berarti tersamar atau tersembunyi, dan tersamar atau tersembunyi itu adalah hakikat ilmu, karena sebenar-benar hakikat ilmu adalah tersamar atau tersembunyi. Sedangkan Sigit memiliki makna bagus atau tampan. Sehingga secara utuh Marsigit bermakna sebagai orang tampan yang selalu mencari ilmu, apabila dalam dunia perwayangan maka ditokohkan sebagai Janaka atau Arjuna. Intinya keseluruhan pemaknaan arti dapat kita jadikan sebagai motivasi untuk terus selalu mencari amal kebaikan. Nama itu adalah doa, jadi haruslah mengandung arti yang baik atau positif.
Filsafat apabila ditingkatkan adalah spiritual, karena semuanya itu adalah spiritual, padahal filsafat itu semua yang ada dan yang mungkin ada, dalam hal ini filsafat spiritual termasuk kedalam filsafat. Filsafat spiritual itu adalah memikirkan perasaan, karena spiritual itu adalah perasaan, hati, doa, kuasa Tuhan, tidak cukup hanya dengan pikiran. Tetapi kita perlu ilmu dan berpikir untuk mengisi spiritual. Prinsip-prinsip spiritualitas sebagian juga berlaku di dalam filsafat, misalnya dalam kehidupan sehari-hari bahwa manusia itu tidak boleh sombong.
Sombong merupakan godaan syetan, dimana sombong itu tertutup dan merasa bisa. Contoh nyatanya adalah yang dilakukan seluruh mahasiswa saat menjawab pertanyaan tes jawab singkat, dimana mahasiswa tidak mengetahui tapi bisa menulis, itu adalah bukti dari kesombongan. Simbol dari kesombongan itu adalah aku dan keakuan, maka Tuhan itu sangat benci pada kesombongan. Sombong itu bisa sadar dan tidak sadar, karena bisa saja karena sudah terbiasa dan memang tabiatnya. Didalam filsafat, ilmu yang paling tinggi adalah dimana seseorang merasa dia sudah tidak memahami apapun.
Permasalahan dalam filsafat hanya ada dua macam, yaitu pertama bagaimana kita  bisa menjelaskan yang ada dalam pikiran dan kedua bagaimana kita mengerti apa yang di luar pikiran. Sejak zaman Socrates dari 200 tahun yang lalu, terbukti tidak ada orang yang mampu melakukannya, yang ada adalah semua orang atau sebagian orang mengaku merasa mengerti. Belajar berfilsafat adalah belajar untuk memposisikan diri dan mendudukan kembali kesadaran manusia yang sudah merasa mengerti sebetul-betulnya hanya sebagian. Persoalan hidup yang utama filosofis adalah dikarenakan manusia tidak paham keseluruhan, manusia hanya paham sebagian. Maka parsialitas hidup sebagian itu adalah tempat godaan setan terhadap manusia melalui sifat manusia yang tidak sempurna yaitu berbicara parsial, memikirkan parsial, dan mendengarkan parsial.
Metode berpikir filsafat adalah mendalami suatu objek pikir sampai sedalam-dalamnya. Tidak bisa terjangkau lagi oleh pikiran walaupun sangat kecil dan sangat ringan bagi orang lain. Memperluas seluas-luasnya sampai tidak mampu menjangkaunya dalam pikiran walau bagai orang lain sangat sempit karena filsafat itu dirimu. Oleh sebab itu maka filsafat itu merupakan bacaanmu, kata-katamu dan penjelasanmu.
Manusia pada hakekatnya dalam keadaan merugi karena salah tapi sebagian kecil dari mereka mengetahui kesalahannya. Berfilsafat artinya kita harus dapat merefleksikan diri dan bukan diri, karena sebenarnya yang mantap itu sudah berupa menjadi mayat akibat tidak berpikir lagi. Berfilsafat adalah olah pikir yang sebenar-benarnya. Pikiran yang kacau itu tandanya sedang mengalami disorientasi. Hidup harus semangat agar tidak terancam kematian. Sebenar-benarnya mayat, sudah tidak berfungsi seperti dengan fungsinya, itulah keterbatasan manusia.
Berfilsafat itu menggunaan solusi dan berpikir menggunakan bahasa logos. Seperti semut membangun dunia menggunakan lumpur untuk membuat rumah, ikan menggunakan air untuk membangun dunia, tukang menggunakan bata untuk membangun dunia, dan hati kita membangun dunia dan akhirat menggunakan hati. Filsafat menggunakan pikiran dan bahasa, caranya adalah cukup dengan A dan bukan A. A itu bisa semuanya seperti pulpen dan air. Bukan A itu seperti bukan pulpen dan bukan air. Dunia dan akhirat adalah air dan bukan air. Bukan air bisa saja neraka, bisa saja Tuhan, bisa saja ayat suci. Sehingga dunia dan akhirat ini bisa diri kita dan bukan diri kita.
Hidup yang bahagia menurut versi filsafat yaitu kerjakan apa yang kamu pikirkan, pikirkan apa yang kamu kerjakan, doakan apa yang kamu kerjakan, doakan apa yang kamu pikirkan, dan doakan apa yang kamu doakan. Sedangkan cara menyeimbangkannya adalah jalani pikiran anda, wujudkanlah pikiran anda dalam bentuk tindakan dan pikirkan tindakan anda kemudian doakan pikiran anda dan doakan tindakan anda. Merentang dan menjalani timeline waktu dari yang kemarin, sekarang dan yang akan datang.