Menjangkau suatu Pemikiran Melalui Filsafat
(Deden Hidayat)
Perkuliahan Filsafat dilaksanakan setiap hari selasa, pukul 07.30
sampai dengan 09.10 diruang I.02.4.01.02 gedung Unggul Pascasarjana Universitas
Negeri Yogyakarta. Perkuliahan pertama dibuka dengan perkenalan Bapak Marsigit
sebagai dosen mata kuliah filsafat ilmu ekaligus Direktur Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau kemudian mengajak mahasiswa untuk membuka
handphone dan mengarahkan mahasiswa untuk membuka mesin pencarian Google. Pada
google mahasiswa kemudian disuruh mencari nama
dan lokasi rumah dari Pak Marsigit. Setelah itu beliau mengatakan hal
tersebut menandakan bahwa Pak Marsigit benar-benar ada dan nyata.
Selanjutnya memasuki pembicaraan mengenai filsafat, filsafat dapat
dipelajari dimanapun dan kapanpun kita berada. Kemudian beliau mengarahkan
untuk membuka youtube untuk mencari video berjudul Rembulan Kekalang UNY. Pada
video tersebut ada unsur tarian, politik, seni rupa, suara dan lainnya yang
semuanya membahas mengenai dari berbagai sisi
baik maupun buruk. Beliau mengingatkan bahwa dalam filsafat diriku
adalah diriku dan dirimu adalah dirimu. Filsafat itu semua yang ada dan yang
mungkin ada dalam kehidupan kita, hal yang dianggap tidak penting bisa menjadi
awal dari ilmu filsafat. Oleh sebab itu agar dapat memahami filsafat harus
banyak membaca, karena sebenar-benarnya berfilsafat adalah pikiran kita.
Filsafat merupakan olah pikir maka yang mungkin ada dimaksudkan
yang ada dalam pikiran. Objek filsafat bisa disebut juga objek formal dan objek
material. Maka sebenar-benar berfilsafat, sebenar-benar olah pikir dan
sebenar-benar orang belajar adalah mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada
di dalam pikiran. Kita mengetahui sedikit yang ada dalam pikiran kita, satu
diantara semiliar pangkat semiliar dari keseluruhan yang mungkin ada yang bisa
kita pikirkan.
Di bawah filsafat itu ada psikologi wacana. Psikologi sendiri itu
bisa bermacam-macam, bisa psikologi terapan, atau yang lainnya. Pada psikologi
wacana kita bisa menggali potensi-potensi apa yang baik untuk diri kita dan
baik untuk diri orang lain. Bisa berawal dari yang paling sederhana saja,
misalnya nama. Kita bisa memaknai nama kita sendiri. Orang yang berpendidikan,
orang yang mengerti masa depan, orang yang mengerti adat itu membuat nama pasti
punya maksud, punya aturan, dan tidak sembarangan atau tidak asal. Tidak hanya
sekedar mencari sesuatu yang fenomenal. Ada pula
nama-nama yang sensasional, tetapi itu menentang arus, menentang kebenaran, dan
menentang nurani, karena itu semua menyangkut tentang etik dan estetika.
Pak Marsigit menanyakan nama salah satu mahasiswa, mahasiswa tersebut bernama Rindang. Nama Rindang memiliki arti
sejuk, dingin, terlindung dari matahari, jika dalam istilah Jawa bermakna iyup
atau teduh. Pak Marsigit kemudian menjelaskan arti nama beliau, baik secara
klasik maupun kontemporer. Nama Marsigit secara klasikal menurut pembagian suku
kata Mar dan Sigit, Mar berarti tersamar atau tersembunyi, dan tersamar atau tersembunyi
itu adalah hakikat ilmu, karena sebenar-benar hakikat ilmu adalah tersamar atau
tersembunyi. Sedangkan Sigit memiliki makna bagus atau tampan. Sehingga secara
utuh Marsigit bermakna sebagai orang tampan yang selalu mencari ilmu, apabila
dalam dunia perwayangan maka ditokohkan sebagai Janaka atau Arjuna. Intinya
keseluruhan pemaknaan arti dapat kita jadikan sebagai motivasi untuk terus
selalu mencari amal kebaikan. Nama itu adalah doa, jadi haruslah mengandung
arti yang baik atau positif.
Filsafat apabila ditingkatkan adalah spiritual, karena semuanya itu
adalah spiritual, padahal filsafat itu semua yang ada dan yang mungkin ada,
dalam hal ini filsafat spiritual termasuk kedalam filsafat. Filsafat spiritual
itu adalah memikirkan perasaan, karena spiritual itu adalah perasaan, hati,
doa, kuasa Tuhan, tidak cukup hanya dengan pikiran. Tetapi kita perlu ilmu dan
berpikir untuk mengisi spiritual. Prinsip-prinsip spiritualitas sebagian juga
berlaku di dalam filsafat, misalnya dalam kehidupan sehari-hari bahwa manusia
itu tidak boleh sombong.
Sombong merupakan godaan syetan, dimana sombong itu tertutup dan
merasa bisa. Contoh nyatanya adalah yang dilakukan seluruh mahasiswa saat
menjawab pertanyaan tes jawab singkat, dimana mahasiswa tidak mengetahui tapi
bisa menulis, itu adalah bukti dari kesombongan. Simbol dari kesombongan itu
adalah aku dan keakuan, maka Tuhan itu sangat benci pada kesombongan. Sombong
itu bisa sadar dan tidak sadar, karena bisa saja karena sudah terbiasa dan
memang tabiatnya. Didalam filsafat, ilmu yang paling tinggi adalah dimana
seseorang merasa dia sudah tidak memahami apapun.
Permasalahan dalam filsafat hanya ada dua macam, yaitu pertama
bagaimana kita bisa menjelaskan yang ada
dalam pikiran dan kedua bagaimana kita mengerti apa yang di luar pikiran. Sejak
zaman Socrates dari 200 tahun yang lalu, terbukti tidak ada orang yang mampu
melakukannya, yang ada adalah semua orang atau sebagian orang mengaku merasa
mengerti. Belajar berfilsafat adalah belajar untuk memposisikan diri dan mendudukan
kembali kesadaran manusia yang sudah merasa mengerti sebetul-betulnya hanya
sebagian. Persoalan hidup yang utama filosofis adalah dikarenakan manusia tidak
paham keseluruhan, manusia hanya paham sebagian. Maka parsialitas hidup
sebagian itu adalah tempat godaan setan terhadap
manusia melalui sifat manusia yang tidak sempurna yaitu berbicara parsial,
memikirkan parsial, dan mendengarkan parsial.
Metode berpikir filsafat adalah mendalami suatu objek pikir sampai
sedalam-dalamnya. Tidak bisa terjangkau lagi oleh pikiran walaupun sangat kecil
dan sangat ringan bagi orang lain. Memperluas seluas-luasnya sampai tidak mampu
menjangkaunya dalam pikiran walau bagai orang lain sangat sempit karena
filsafat itu dirimu. Oleh sebab itu maka filsafat itu merupakan bacaanmu,
kata-katamu dan penjelasanmu.
Manusia pada hakekatnya dalam keadaan merugi karena salah tapi
sebagian kecil dari mereka mengetahui kesalahannya. Berfilsafat artinya kita
harus dapat merefleksikan diri dan bukan diri, karena sebenarnya
yang mantap itu sudah berupa menjadi mayat akibat tidak berpikir lagi.
Berfilsafat adalah olah pikir yang sebenar-benarnya. Pikiran yang kacau itu
tandanya sedang mengalami disorientasi. Hidup
harus semangat agar tidak terancam kematian. Sebenar-benarnya mayat, sudah
tidak berfungsi seperti dengan fungsinya, itulah keterbatasan manusia.
Berfilsafat itu menggunaan solusi dan berpikir menggunakan bahasa
logos. Seperti semut membangun dunia menggunakan lumpur untuk membuat rumah,
ikan menggunakan air untuk membangun dunia, tukang menggunakan bata untuk
membangun dunia, dan hati kita membangun dunia dan akhirat menggunakan hati.
Filsafat menggunakan pikiran dan bahasa, caranya adalah cukup dengan A dan
bukan A. A itu bisa semuanya seperti pulpen dan air. Bukan A itu seperti bukan
pulpen dan bukan air. Dunia dan akhirat adalah air dan bukan air. Bukan air
bisa saja neraka, bisa saja Tuhan, bisa saja ayat suci. Sehingga dunia dan
akhirat ini bisa diri kita dan bukan diri kita.
Hidup yang bahagia menurut versi filsafat yaitu kerjakan apa yang
kamu pikirkan, pikirkan apa yang kamu kerjakan, doakan apa yang kamu kerjakan,
doakan apa yang kamu pikirkan, dan doakan apa yang kamu doakan. Sedangkan cara menyeimbangkannya
adalah jalani pikiran anda, wujudkanlah pikiran anda dalam bentuk tindakan dan
pikirkan tindakan anda kemudian doakan pikiran anda dan doakan tindakan anda.
Merentang dan menjalani timeline waktu dari yang kemarin, sekarang dan yang akan
datang.
No comments:
Post a Comment