FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
Disusun oleh: Deden Hidayat
A.
Pendahuluan
Pendidikan merupakan cara untuk mengembangkan sumber daya manusia.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara (UU Nomor 20 Tahun 2003). Tujuan pendidikan
nasional berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3, yaitu untuk mengembangkan
potensi siswa agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Matematika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang sangat
berpengaruh terhadap perkembangan bidang ilmu pengetahuan lainnya. Matematika
disebuat juga sebagai the queen of sciences, oleh karena itu matematika
berperan sebagai induk atau dasar dari berbagai ilmu pengetahuan. Pada zaman
modern saat ini baik bidang-bidang ilmu pengetahuan seperti sosial, ekonomi,
kedokteran, biologi, dan ilmu lainnya tetap mempelajari matematika. Hal ini
menunjukkan bahwa matematika berperan sebagai penunjang atau dasar perkembangan
ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Namun berdasarkan hasil TIMMS, PISA dan Ujian Nasional (UN)
prestasi belajar siswa Indonesia pada mata pelajaran matematika dapat dikatakan
masih belum optimal. Hasil Trends in Mathematics and
Science Study (TIMSS) tahun 2015 siswa Indonesia dalam mata pelajaran
matematika mendapatkan skor 397 poin dan berada pada peringkat 45 dari 50
negara. Kemudian, berdasarkan laporan PISA tahun 2015 (OECD, 2018) siswa
Indonesia mendapatkan skor 375 dan menduduki peringkat 62 dari 70 negara
peserta. Lebih lanjut berdasarkan hasil UN matematika, diperoleh nilai
matematika siswa masih tergolong pada kategori cukup. Hal tersebut
menandakan perlunya memfasilitasi kemampuan matematika siswa agar menjadi lebih
optimal.
Matematika merupakan bagian dari pengetahuan yang bersifat pasti,
namun kenyataannya bahwa matematika memiliki asal-usul sendiri. istilah
matematika berasal dari istilah latin Mathematica yang awalnya mengambil
istilah Mathematike yang berarti relating to learning yang
berkaitan dengan ilmu pengetahuan (Haryono, 2015). Berdasarkan asal-usulnya
bahwa matematika merupakan sebuah pengetahuan yang diperoleh dari proses
belajar. Sehingga, matematika merupakan suatu pengetahuan. Persoalannya
pengetahuan apa yang menjadi pokok permasalahan atau sasaran yang dipelajarinya.
Oleh karena itu pada makalah ini akan mencoba membahas mengenai filsafat
pendidikan matematika, ontologi, epistemologi dan aksiologi pendidikan
matematika.
B.
Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia
yang merupakan gabungan dari dua kata yaitu philos dan sophia. Philos
berarti sahabat atau kekasih, sedangkan sophia memiliki arti
kebijaksanaan, pengetahuan, kearifan. Dengan demikian maka arti dari kata
philosophia adalah cinta pengetahuan. Pakar filsafat disebut filsuf, dan orang
yang berpikir menggunakan cara filsafat dikatakan berpikir filsafati.
Para filsuf mempertanyakan awal dan asal mula alam dan berusaha
menjawabnya dengan menggunakan rasio atau akalnya. Tetapi definisi filsafat antara
filsuf yang satu dengan filsuf lain berbeda. Berikut ini merupakan pengertian
dari filsafat menurut beberapa filsuf (Sukardjono, 2011)
1. Plato mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan untuk meraih
kebenaran yang asli dan murni. Ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah
penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala
sesuatu yang ada.
2. Aristoteles mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang selalu
berusaha mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang ada.
Ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya
mempelajari “ada dan tampilan” dan “ada dan realita”
3. Rene Descartes, filsuf Prancis, menyatakan bahwa filsafat merupakan kumpulan
segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
4. William James, filsuf Amerika, tokoh pragmatisme dan pluralisme, mengatakan
bahwa filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebatnya untuk berpikir yang
jelas dan terang.
Sedangkan Jalaluddin (2012) berpendapat bahwa filsafat merupakan
ilmu pengetahuan komprehensif yang berusaha memahami persoalan-persoalan yang
timbul di dalam keseluruhan ruang lingkup pengalaman manusia. Filsafat
dibutuhkan manusia dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam
berbagai kehidupan. Filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik,
radikal, dan universal dalam ragka mencari kebenaran, inti atau hakikat
mengenai segala sesuatu yang ada (Gasalba, 1978; Rosyidah, 2010).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
filsafat merupakan suatu ilmu yang mempelajari mengenai sesuatu yang ada dan
mungkin ada yang didasarkan pada pikiran atau rasio.
C.
Pengertian Matematika
Matematika secara etimologi berasal dari bahasa latin “manthanei”
atau “mathema” yang berarti belajar atau hal yang dipelajari (Depdiknas,
2003: 1). Menurut Ruseffendi (Heruman, 2013: 1) matematika adalah bahasa
simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu
tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur
yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan. Ciri utama matematika
adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan
diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumya sehingga kaitan antar konsep
atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten (Depdiknas, 2003: 5).
Boaler (2002) menyatakan bahwa “mathematical is a world of powerful and
beautiful structures, a way of thinking, organising, investigating and solving
problems. It is also, of course, useful in everyday life”. Matematika
merupakan suatu mata pelajaran yang memiliki pengaruh yang kuat di dunia dengan
memiliki sebuah struktur yang indah, dimana melalaui matematika kita dapat
belajar cara mengenai berpikir, mengorganisasi, menginvestigasi, dan
menyelesaikan permasalahan. Selain itu matematika merupakan mata pelajaran yang
berguna dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini serupa dikemukakan oleh Lawrence
(Chambers, 2008) bahwa “mathematicsis the study of patterns abstracted from
the world around us do anything we learn in maths has literally thousands of
applications, in art, sciences, finance, health and leisure”. Matematika
adalah pelajaran mengenai pola-pola yang diabstraksi dari dunia disekita kita
dan dapat diaplikasikan pada banyak disiplin ilmu seperti sastra. Ilmu alam,
keuangan, kesehatan, dan ilmu sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa matematika
merupakan mata pelajaran yang memiliki peranan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia.
Berdasarkan pendapat para ahli maka dapat disimpulkan bahwa
matematika merupakan salah satu cara untuk dapat mendeskripsikan suatu relasi
atau hubungan-hubungan yang ada dan terjadi di dalam dunia ini. Matematika
digunakan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan hubungan antara bilangan,
himpunan, bentuk, objek dan konsep.
Selanjutnya mengenai karakteristik pendidikan matematika,
karakteristik dari pendidikan matematika tidak bisa dilepaskan dari
karakteristik matematika itu sendiri. Adapun karakteristik matematika dan
pendidikan matematika menurut Soedjadi (2000) adalah sebagai berikut.
|
No
|
Karakteristik Matematika
|
Karakteristik Pendidikan Matematika
|
|
1
|
Memiliki objek kajian yang abstrak (hanya
ada di dalam pikiran)
|
Memiliki objek kajian yang konkret dan abstrak
|
|
2
|
Bertumpu pada kesepakatan (lebih bertumpu
pada aksioma formal)
|
Bertumpu pada kesepakatan (termasuk
penekanan pada aksioma selfevident
truth)
|
|
3
|
Berpola pikir deduktif
|
Berpola pikir deduktif dan juga induktif
|
|
4
|
Konsisten dalam sistemnya
|
Konsisten dalam sistemnya (termasuk sistem
yang dipilih untuk pendidikan)
|
|
5
|
Memiliki/menggunakan simbol yang kosong
dari arti
|
Memiliki/menggunakan simbol yang kosong
dari arti dan juga yang telah mempunyai arti tertentu
|
|
6
|
Memperhatikan semesta pembicaraan
|
Memperhatikan semesta pembicaraan (bahkan
juga digunakan untuk pembatasan bahan ajar matematika, sesuai kelas tertentu)
|
Sementara
itu menurut Sumardyono (2004) karakteristik matematika di sekolah terbagi
menjadi 4 bagian yaitu sebagai berikut
1.
Penyajian,
penyajian matematika tidak harus diawali dengan teorema maupun definisi,tetapi
haruslah disesuaikan dengan perkembangan intelektual siswa.
2.
Pola
pikir, pembelajaran matematika sekolah dapat menggunakan pola pikir deduktif
maupun pola pikir induktif. Hal ini harus disesuaikan dengan topik bahasan dan
tingkat intelektual siswa. Sebagai kriteria umum, biasanya di SD menggunakan
pendekatan induktif lebih dulu karena hal ini lebih memungkinkan siswa
menangkap pengertian yang dimaksud. Sementara untuk SMP dan SMA, pola pikir
deduktif sudah semakin ditekankan. Contoh-contoh yang disajikan sebelumnya juga
menunjukkan contoh pola pikir yang digunakan di sekolah.
3.
Semesta
Pembicaraan, sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa,maka
matematika yang disajikan dalam jenjang pendidikan juga menyesuaikan dalam
kekomplekan semestanya. Semakin meningkat tahap perkembangan intelektual siswa,
maka semesta matematikanya semakin diperluas.
4.
Tingkat
keabstrakan, tingkat keabstrakan matematika juga harus menyesuaikan dengan
tingkat perkembangan intelektual siswa. Pada jenjang SD dimungkinkan untuk
“mengkonkretkan” objek-objek matematika agar siswa lebih memahami pelajaran.
Namun, semakin tinggi jenjang sekolah, tingkat keabstrakan objek semakin
diperjelas.
Adanya karakteristik-karakteristik
tersebut menimbulkan banyak persoalan pada mata pelajaran matematika. Seperti
yang sudah disebutkan dalam bagian pendahuluan bahwa prestasi belajar
matematika siswa Indonesia masih belum optimal. Hal tersebut didasarkan pada
hasil PISA, TIMMS dan UN. Hasil Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS)
tahun 2015 siswa Indonesia dalam mata pelajaran matematika mendapatkan skor 397
poin dan berada pada peringkat 45 dari 50 negara. Kemudian, berdasarkan laporan
PISA tahun 2015 (OECD, 2018) siswa Indonesia mendapatkan skor 375 dan menduduki
peringkat 62 dari 70 negara peserta. Lebih lanjut berdasarkan hasil UN
matematika, diperoleh nilai matematika siswa masih tergolong pada kategori
cukup.
Belum optimalnya prestasi belajar
siswa pada mata pelajaran matematika, diakibatkan oleh sebuah persoalan, salah
satunya yaitu bahwa siswa-siswa dapat mengerjakan soal dengan baik namun tidak
dapat memberikan makna dari soal tersebut. Hal tersebut mengakibatkan masih
lemahnya pendidikan matematika di Indonesia. Lemahnya pendidikan matematika
merupakan suatu akibat yang ditimbulkan dari tidak diajarkannya mengenai
filsafat atau latar belakang dari ilmu matematika sendiri. Matematika hanya
diartikan sebagai mata pelajaran yang membahas mengenai perhitungan-perhitungan.
Terhadap kelemahan tersebut maka
diperlukan adanya perubahan paradigma dan cara pandang baru tentang bagaimana
unsur-unsur filsafat itu bisa diberikan kepada siswa dan tidak melakukan
perubahan terhadap kurikulum matematika yang sudah ada, ini ditujukan kepada
pendidik agar apa yang diberikan kepada para siswanya harus dilengkapi dengan
berbagai penjelasan dan latar belakang terhadap sebuah rumus yang telah
diyakininya itu, sebagai sebuah pengetahuan filsafat.
Persoalan dalam pembelajaran matematika
sebenarnya dapat bersumber dari komponen-komponen yang membentuk suatu sistem
pembelajaran tersebut. Komponen-komponen tersebut meliputi siswa, pendidik,
kurikulum, materi, sarana dan prasarana, metode/model/strategi pembelajaran,
dukungan dari orang tua atau lingkungan sekitar (Soedjadi, 2000).
Senada dengan hal tersebut, menurut
Siswono (2014) bahwa persoalan pada matematika yaitu sebagai berikut. Pertama,
masalah yang berkaitan dengan siswa meliputi kemampuan awal yang belum
dikuasai, motivasi dan minat dalam belajar yang rendah, variasi kemampuan
maupun perbedaan-perbedaan karakteristik siswa seperti kemampuan, gaya
kognitif, atau gender, keyakinan terhadap belajar, matematika, atau pendidik,
pengalaman dan lingkungan yang berbeda. Kedua, masalah yang terkait dengan
pendidik seperti banyak pendidik yang bukan berlatarbelakang pendidikan. Banyak
sarjana-sarjana non pendidikan menjadi pendidik dan kebetulan pengalaman maupun
bakat yang dimiliki bukan sebagai pendidik, sehingga mereka mengajar seperti pengalamannya
ketika menjadi siswa melihat bagaimana pendidiknya mengajar. Strategi
pembelajaran yang digunakan banyak menekankan pada polapola lama, seperti
ceramah, mancatat-menulis, mengerjakan soal-soal yang tanpa makna, sehingga siswa
bosan dan tidak berminat pada matematika. Karena tidak memahami landasan dan
teknik-teknik penilaian, maka penilaian masih banyak menekankan pada produk
menggunakan tes paper and pencil, bukan penilaian alternatif atau
penilaian berbasis kelas dengan berbagai variasi teknik penilaian. Masalah lain
seperti keyakinan pendidik terhadap matematika, siswa, atau strategi
pembelajaran yang efektif. Keyakinan pendidik yang masih memandang matematika
sebagai alat, akan menempatkan siswa sebagai individu tanpa pengetahuan awal
atau nir pengalaman, sehingga strategi pembelajaran yang dilakukan cukup
instruksi-instruksi informatif. Masalah klasik lain adalah kompetensi pedagogik
dan profesional yang masih rendah. Kondisi ini mempengaruhi fleksibilitas dalam
memilih suatu strategi pembelajaran yang efektif. Masalah yang muncul dari
aspek pedagogis adalah kemampuan menyusun rencana pembelajaran dengan strategi
pembelajaran yang variatif dan efektif masih kurang. Masalah lain adalah
kepribadian dan norma-norma yang dianut yang tidak mendukung pembelajaran
efektif. Ketiga, masalah terkait dengan kurikulum. Kurikulum umumnya memuat
harapan-harapan dan tujuantujuan pendidikan jangka panjang serta bersifat
nasional/global. Misalkan pada kurikulum disebutkan bahwa pelajaran matematika
perlu diberikan kepada semua siswa dengan membekali siswa kemampuan berpikir
logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama”.
D.
Pengertian Filsafat Matematika
Filsafat matematika bersifat koheren (runtut) yang konsepsional. Menurut
Haryono (2015) menyatakan bahwa filsafat matematika
merupakan pemikiran menyeluruh (reflektif) dan kompleks terhadap persoalan-persoalan
mengenai sesuatu hal yang berkaitan dengan landasan dan dasar dari pengetahuan
matematika serta hubungan matematika di segala bidang kehidupan manusia
baik secara epistimologi, ontologi, metodologi, maupun aspek etis dan estetika
pengetahuan matematika.
Filsafat matematika pada dasarnya merupakan sebuah pemikiran
reflektif terhadap matematika. Sebagaimana yang ditekankan oleh filosof Inggris
yang bernama R.G. Collingwood yang menyatakan the philosophy is reflective
atau pemikiran filsafat bersifat reflektif dalam arti senantiasa berpikir
tentang pemikirannya sendiri mengenai objek tersebut. Namun, secara khusus
filsafat matematika sebagai mana yang disampaikan The Liang Gie menyatakan
bahwa: "In particular, a phylosophy of the mathematics essentially
amounts to Wa an attempted reconstruction in which the chaotic mass of
mathematical knowledge accumulated over the ages is given a certain sense or
order". Filsafat matematika pada dasarnya sama dengan suatu percobaan
penyusunan kembali yang dengannya kumpulan pengetahuan matematika yang kacau dan
terhimpun selama berabad-abad diberi suatu makna atau simbol tertentu.
Dalam filsafat matematika menurut Haryono (2015) terdapat tiga
aliran besar dalam filsafat. Aliran-aliran dalam filsafat matematika tersebut
adalah sebagai berikut.
1.
Logisisme
Aliran logisisme dipelopori
oleh filsuf Inggris bernama Bertrand Arthur William Russell (1872-1970) dengan
diterbitkannya bukunya yang berjudul The Principles of Mathematics. Logisisme
merupakan sebuah aliran yang berpendapąt bahwa matematika murni (science)
didasarkan pada prinsip logika dan pengkajiannya juga harus menggunakan logika,
sehingga matematika hanus lebih logis dipahami. Dengan demikian logika dan
matematika merupakan bidang yang sama karena seluruh konsep dan dalil
matematika dapat diturunkan dari logika.
Bertrand Russell menerima logisisme
adalah yang paling jelas dan dalam rumusan yang sangat eksplisit. Terdapat dua
pernyataan penting menurutnya, yaitu semua konsep matematika dapat
disederhanakan pada konsep logika dan semua kebenaran dalam matematika dapat
dibuktikan dari aksioma dan aturan melalui penarikan kesimpulan secara logika
semata. Kemudian Alfred North Whitehead (1861-1947) membuktikan bahwa logika
dan matematika keduanya berkembang bersama, sehingga dapat dipahami bahwa
logika dan matematika adalah satu.
2.
Formalisme
Pelopor dari aliran formalisme
adalah seorang ahli matematika yaitu David Hilbert (1862-1943) yang berpendapat
bahwa matematika adalah tidak lebih atau tidak kurang sebagai bahasa
matematika. Menurut Haryono (2015) aliran formalisme bahwa matematika
merupakan sistem lambang yang digunakan dalam mewakili benda-benda yang ada
atau menggunakan simbol dan proses pengolahan terhadap lambang-lambang yang
digunakan.
3.
Intuitionisme
Aliran ini dipelopori oleh ahli
matematika Belanda yang bernama Luitzen Egbertus Jan Brouwer (1881-1966). Pendapatnya
tentang matematika yaitu bahwa matematika sama dengan bagian yang eksak dari
pemikiran manusia. Ketepatan dalil-dalil matematika terletak dalam akal manusia
dan tidak pada simbol-simbol di atas kertas. Aliran Intuitionisme menyatakan
bahwa matematika berlandaskan pada intuisi dasar mengenai kemungkinan untuk
membangun sebuah serangkaian bilangan yang tidak terbatas (infinite). Intuisi
ini pada hakikatnya merupakan dasar suatu aktifitas berpikir yang tergantung
pada pengalaman, bebas dari bahasa dan simbolisme, serta bersifat objektif.
E.
Hubungan Filsafat dan Pendidikan Matematika
Filsafat dan matematika kedua-duanya merupakan pengetahuan rasional
yang logis, tidak melakukan eksperimen dan tidak memerlukan peralatan
laboratorium dalam proses pencarian pengetahuan. hubungan dari matematika dan
filsafat yaitu keduanya bersifat apriori dan tidak eksperimentasi. Hasil
dari filsafat dan matematika tidak memerlukan bukti secara fisik, melainkan
hanya abstraksi dari sifat benda dan proses analisisnya. Sehingga, menurut The
Liang Gie (1993) menyebutkan bahwa sangat keliru jika dikatakan bahwa filsafat
merupakan ayah atau ibu dari matematika. Matematika tidak lahir dari filsafat,
melainkan keduanya berkembang bersama-sama dengan saling memberikan persoalan
sebagai bahan masukan dan umpan balik (Haryono, 2015; The Liang Gie, 1993).
The Liang Gie (Haryono, 2015) menyebutkan bahwa filsafat dan
matematika merupakan dua bidang pengetahuan rasional yang memiliki hubungan
yang sangat erat dan tidak diragukan lagi (saling berkaitan). Hal tersebut bisa
diketahui bahwa filsafat dan geometri lahir pada masa yang sama, dari bapak
yang sama dan dari pikiran orang yang sama yaitu orang bernama Thales. Berikut
merupakan para filusuf yang mempelopori filsafat dan matematika tumbuh dan
berkembang secara bersama-sama (Haryono, 2015).
a.
Thales (624-546 SM)
Thales merupakan seorang perintis
matematika dan filsafat Yunani. Thales berasal dari Meletius (terletak di
pantai barat negara Turki). Thales merupakan seorang pedagang sehingga
membuatnya sering melakukan perjalanan. Berdagang ke Mesir dan Babilonia
memberikan kesempatan untuk dirinya mempelajari astronomi dan geometri.
Thales merupakan seorang yang
menyusun sebuah teori bukan hanya atas dasar eksperimen, namun juga berdasarkan
pemikiran yang logis. Hasil kerja dan prinsip Thales menandai awal dari sebuah
era kemajuan pengetahuan matematika yang mengembangkan kemampuan deduktif
sebagai alasan logis yang dapat diterima oleh akal manusia. Pembuktian deduktif
diperluka untuk menurunkan teorema dari postulat-postulat dan aksioma-aksioma
sebelumnya. Pengembangan pembuktian deduktif tersebut telah mencapai puncak
dengan lahirnya karta Euclid sekitar tiga ratus tahun setelah Thales.
Beberapa pengembangan geometri yang
dilakukan oleh Thales yang dikenal dengan teorema Thales, yaitu sebagai
berikut.
1)
Lingkaran
dibagi dua oleh garis yang melalui pusatnya yang disebut dengan diameter.
2)
Besarnya
sudut-sudut alas segitiga sama kaki adalah sama besar.
3)
Sudut-sudut
vertikal yang terbentuk dari dua garis sejajar yang dipotong oleh sebuah garis lurus
menyilang, sama besarnya.
4)
Apabila
sepasang sisinya, sepasang sudut yang terletak pada sisi itu dan sepasang sudut
yang terletak dihadapan sisi itu sama besarnya, maka kedua segitiga itu dikatakan
sama sebangun.
5)
Segitiga
dengan alas diketahui dan sudut tertentu dapat digunakan untuk mengukur jarak
kapal.
b.
Pythagoras (572-497 SM)
Pythagoras merupakan seorang filusuf
yang mendirikan mazhab Pythagoreanisme di Crotona yang menjelaskan bahwa bilangan
merupakan intisari dan dasar-dasar pokok dari sifat-sifat benda. Pytagoras
memiliki sebuah pemikiran yang serba matematis yang kemudian menguasai
pengetahuan manusia pada abad modern. cara berpikir matematis muncul sebagai
reaksinya dalam menentang kebenaran formal dan rasional yang justru tidak
realistis.
Cara berpikir pure mathematics
tetap tidak mungkin menciptakan realitas kehidupan yang sesungguhnya, karena
berbagai kekurangan yang selalu memperhitungkan. Pythagoras menganggap bahwa
semua benda merupakan bilangan (all things are number) adalah awal
lahirnya ilmu pasti. Pythagoras mengembalikan segala sesuatu kepada bilangan
artinya semua yang ada dalam kehidupan ini tidak terlepas dari bilangan.
Misalnya angka mulai hidup dan angka waktu kematian atau umur mulai lahir dan
usia penutup kehidupan. Pythagoras namanya dikenal dalam bidang matemaatika
karena dengan dalil pythagoras yang dirumuskan menjadi jumlah dari kuadrat dua
sisi sebuah segitiga siku-siku sama dengan kuadrat sisi miringnya.
c.
Euclid (± 300 SM)
Euclid adalah tokoh filsuf dan
matematikawan dari Yunani. The Element merupakan karya dalam matematika
dan ilmu ukur yang berisi tentang geometri. Euclid juga memberikan sumbangan
yang sangat besar kepada ilmu pengetahuan, pemahaman bahwa mengumpulkan
fakta-fakta itu belumlah cukup. Fakta tersebut harus diberikan urutan yang
logis, dirangkum, dan disistematiskan untuk membangun prinsip-prinsip umum.
d.
Plato (427-347 SM)
Plato mempunyai pengaruh yang sangat
besar dalam perkembangan filsafat matematika. Bahasan Plato meliputi tentang
konsep, universal dan tidak membahas benda material. Menurut Plato pengetahuan terdiri
atas perkenalan dengan alam rasio yang berada di atas alam indra, alam rasio
itulah alam yang sesungguhnya.
Geometri merupakan suatu ilmu yang
dengan akal sehat membuktikan proposisi abstrak mengenai hal-hal yang abstrak
seperti garis lurus, segitiga, segiempat, lingkaran, dan lain sebagainya. Plato
juga memberikan penegasan bahwa geometri sebagai pengetahuan ilmiah berdasarkan
pure reason (akal sehat) menjadi kunci kearah pengetahuan dan kebenaran
filsafat serta pemahaman mengenai sifat alami dan kenyataan yang tak terhingga.
Bentuk-bentuk geometri abstrak tersebut dianggap lebih nyata daripada
benda-benda fisik biasa yang melukiskan bentuk benda secara tidak sempurna.
F.
Ontologi Pendidikan Matematika
1.
Pengertian Ontologi
Ontologi
berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata on dan logos. on
berarti ada dan logos berarti ilmu. Jadi, ontologi merupakan ilmu
tentang keberadaan suatu yang ada. Louis O. Kattsoff (Haryono 2015) menyatakan
bahwa ontologi tersebut mencari ultimate reality (kenyataan yang tak
terhingga) dan menjelaskannya. Sebagai contoh tentang pemikiran Thales yang
berpendapat bahwa airlah yang menjadi substansi tak terhingga (ultimate
substance) yang mengeluarkan suatu benda. Sehingga benda hanya berasal dari
satu unsur saja yaitu air.
Menurut
Muhammad Noor Syam (Jalaluddin, 2012), ontologi kadang-kadang disamakan dengan
metafisika, sebelum manusia menyelidiki yang lain, manusia berusaha mengerti
hakikat sesuatu. Manusia dalam interaksinya dengan semesta raya, melahirkan
pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti apakah sesungguhnya realita yang ada
itu. Jadi, ontologi adalah cabang dari filsafat yang
persoalan pokoknya apakah kenyataan atau realita tersebut. Rumusan-rumusan
tersebut identik dengan membicarakan tentang hakikat ada. Hakikat ada dapat
berarti tidak apa-apa, karena menunjuk pada hal umum (abstrak umum universal).
2.
Ontologi Pendidikan Matematika
Menurut
Marsigit (2015), Ontologi matematika berusaha memahami keseluruhan dan kenyataan
matematika, yaitu segala matematika yang mengada. Kaitan antara ontologi dengan
matematika sendiri yaitu mencari sebuah pengertian menurut akar dan dasar
terdalam dari kenyataan matematika. Sejalan dengan hal tersebut, menurut
Haryono (2015) ontologi matematika merupakan cabang filsafat yang berhubungan
dengan suatu yang ada termasuk hal-hal metafisik dalam pengetahuan matematika. Hal-hal
yang dipersoalkan dalam ontologi matematika seperti, cakupan dari pernyataan
matematika yang berkaitan dengan dunia nyata (fakta) atau hanya dalam pikiran
manusia, sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa cakupan tersebut merupakan
suatu realitas dan eksistensi dari entitas-entitas matematika yang juga menjadi
bahan pemikiran filsafat.
Berdasarkan
pengertian diatas, maka ontologi pendidikan matematika adalah hakikat yang ada didalam
atau dibalik matematika secara menyeluruh. Ontologi pendidikan matematika terdiri
dari yaitu sebagai berikut.
a.
Karakteristik
pendidikan matematika
Karakteristik merupakan kualitas
tertentu atau ciri khas dari seseorang atau sesuatu. Menurut Soedjadi (2000),
karakteristik dari pendidikan matematika adalah sebagai berikut.
1)
Objek
kajian bersifat abstrak; dalam pendidikan matematika mengharuskan seorang guru
dituntut untuk mengajarkan sebuah materi matematika dengan cara mengurangi
tingkat keabstrakan dari matematika sendiri. hal tersebut bertujuan agar siswa
mudah memahami mengenai materi pelajaran di sekolah. Dalam pendidikan
matematika, tingkat keabstrakan dipengaruhi oleh jenjang sekolah, semakin
tinggi jenjangnya maka akan semakin tinggi keabstrakan dari materi yang
dipelajari.
2)
Pembuktian
secara deduktif; pembuktian matematika harus berdasarkan penalaran deduktif
karena jika berlaku untuk n=1 dan dianggap benar untuk n=k (k bilangan asli),
maka akan terbukti untuk n=k+1. Matematika sebagai ilmu tidak menolak
generalisasi secara induktif, intuisi, atau bahkan trial and error asalkan pada
kesimpulan akhirnya dapat diorganisasikan dengan pembuktian secara deduktif.
Sementara itu, pada pendidikan matematika masih harus menyesuaikan dengan
perkembangan kognitif siswa. Artinya di pendidikan matematika masih memerlukan
pola pikir induktif sebagai penunjang yang secara bertahap pada akhirnya akan
mengarah ke pola pikir deduktif.
3)
Konsistensi;
dalam pembelajaran matematika konsistensi sangat diperlukan. Konsistensi juga
diperlukan dalam hal istilah atau nama objek dalam matematika yang digunakan.
Tidak dibenarkan adanya kontradiksi baik dalam sifat, konsep, dan teorema
tertentu yang digunakan.
4)
Mengacu
kepada kesepakatan; seperti halnya dalam matematika sebagai ilmu, dalam
pembelajaran matematika kesepakatan harus dipatuhi. Kesepakatan juga berlaku
dalam hal istilah atau nama objek matematika yang digunakan.
5)
Simbol-simbol;
simbol matematika tidak memperhatikan tingkatan tetapi pada pendidikan
matematika mengenalkan simbol matematika dari tingkat dasar sampai tingkat
atas, penggunaan dari simbol itu disesuaikan dengan tingkat kognitif siswa
(menyesuaikan semesta pembicaraan simbol tersebut).
6)
Memperhatikan
ruang lingkup pembicaraan; penyederhanaan konsep matematika yang kompleks
sangat memperhatikan semesta pembicaraannya. Memperluas dan meningkatkan
semesta pembicaraan matematika dalam pendidikan matematika sekaligus membedakan
tingkat atau jenjang sekolah. Artinya pembatasan ruang lingkup kajian
matematika dalam pendidikan matematika di mulai dati TK yang sering disebut
“matematika permulaan”, meningkat dan
sedikit meluas ke tingkat SD kelas 1, kelas 2, dan seterusnya sampai SMA
sehingga semesta matematika memang dibatasi untuk pendidikan matematika
sekaligus membedakan jenjang sekolah.
b.
Perkembangan
Pendidikan Matematika
Perkembangan pendidikan matematika tentunya tidak bisa dipisahkan
dari perkembangan filsafat matematika sendiri. Menurut The Lieng Gie (Haryono,
2015) bahwa filsafat dalan matematika merupakan dua bidang pengetahuan yang
rasional yang memeliki hubungan yang sangat erat dan saling berkaitan.
Matematika memiliki hubungan yang sangat erat jika dibandingkan dengan ilmu
lainnya. hal tersebut dikarenakan filsafat merupakan pangkal dari mempelajari
suatu ilmu dan matematika adalah ibu dari segala ilmu.
Berangkat dari pertanyaan sederhana, “apakah sebenarnya matematika
itu?”para ahli telah bergumul dengan ide dan pemikiran filsafat sejak abad
ke-19 hingga sekarang ini. Beberapa aliran yang mempengaruhi jalan perkembangan
matematika termasuk perkembangan pendidikan matematika (Sumardyono, 2004).
Pertama Formalisme; Bagi kaum formalis, matematika itu
sesungguhnya dikembangkan melalui suatu sistem aksioma. Sifat alami dari
matematika itu adalah sistem lambang-lambang formal. Mereka percaya bahwa
objek-objek matematika itu tidak ada hingga diciptakan oleh manusia melalui
sistem aksioma. Mereka mencoba membuktikan bahwa seluruh bangunan matematika
yang disusun dari sistem aksioma itu adalah konsisten. Pemikiran ini
mempengaruhi buku-buku pelajaran dan kurikulum matematika selama pertengahan
abad ke-20. Kurikulum 1975 adalah contoh par exellent dari pemikiran
ini. Walaupun semua sistem matematika masih menggunakan sistem aksioma, tetapi
menganggap bahwa formalisme menjadi landasan matematika tidak diterima oleh
beberapa ahli. Keberatan bermula ketika Godel membuktikan bahwa kita tidak
mungkin dapat membuat suatu sistem lengkap yang konsisten dalam dirinya
sendiri. Pernyataan ini terkenal dengan sebutan Teorema Ketidaklengkapan Godel
(Godel`s Incompleteness Theorem).
Kedua Logisisme, landasan matematika aliran ini yaitu lewat
buku mereka Principia Mathematica (1903). Menurut mereka semua
matematika dapat diturunkan dari prinsip-prinsip logika. Kebanyakan ide-ide
logika juga diterima oleh kaum formalis, tetapi meraka tidak percaya bahwa
matematika dapat diturunkan dari logika saja. Sementara menurut kaum logisisme,
matematika itu tidak lain adalah logika. Menurut istilah mereka, matematika itu
masa dewasa dari logika. Keberatan utama terhadap aliran ini adalah adanya
paradoks-paradoks∗ logika (seperti paradoks teori himpunan pada aliran formalisme)
yang tidak dapat diselesaikan oleh kaum pendukung logisisme.
Ketiga Intuisionisme, aliran ini sejalan dengan filsafat
umum dari Immanuel Kant (1724-1804). Intuisionis mengklaim bahwa matematika
berasal dan berkembang di dalam pikiran manusia. Ketepatan dalil-dalil
matematika tidak terletak pada simbol-simbol di atas kertas, tetapi terletak
dalam akal pikiran manusia. Hukum-hukum matematika tidak ditemukan melalui
pengamatan terhadap alam, tetapi mereka ditemukan dalam pikiran manusia. Keberatan
terhadap aliran ini adalah bahwa pandangan kaum intuisionis tidak memberikan
gambaran yang jelas tentang bagaimana matematika bekerja dalam pikiran. Kita
tidak mengetahui secara tepat pengetahuan intuitif bekerja dalam pikiran.
Konsep-konsep mental seperti cinta dan benci berbeda-beda antara manusia yang
satu dengan yang lain. Apakah realistik bila mengganggap bahwa manusia dapat
berbagi pandangan intuitif tentang matematika secara persis sama. Lalu, mengapa
kita mengajarkan matematika bila semua matematika adalah intuitif? Lalu di mana
implikasi teori-teori landasan matematika itu bagi pembelajaran matematika?
Implikasi langsung memang kelihatannya tidak ada, tetapi ia akan mempengaruhi
pola pikir seseorang (guru) dalam memandang matematika sehingga mempengaruhi
cara guru membelajarkan matematika. Guru yang menganggap matematika hanya
merupakan kumpulan angka-angka dan rumus-rumus belaka maka merupakan termasuk
kedalam golongan formalisme. Guru yang bertipe seperti ini hanya mengajarkan
matematika bukannya membelajarkan matematika.
G.
Epistemologi Pendidikan Matematika
1.
Pengertian Epistemologi
Epistemologi
berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme dan logos yang artinya episteme
berarti suatu pengetahuan dan logos berartı ilmu. Sehingga menurut
Haryono (2015), epistemologi bisa diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan. Perbedaan
antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan yaitu, pengetahuan merupakan suatu kata
yang digunakan untuk menunjuk kepada apa yang diketahui oleh seseorang. Sedangkan
ilmu pengetahuan merupakan proses pengkajian, analisa dan penyimpulan terhadap
pengetahuan tersebut.
Sedangkan
menurut Jalaluddin (2012) bahwa epistemologi berarti bidang filsafat yang
menyelidiki sumber, syarat, proses terjadinya ilmu pengetahuan, batas validitas
dan hakikat ilmu pengetahuan. Menurut Salam (Jalaluddin;2012) bahwa setiap
pengetahuan manusia merupakan hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan benda
hingga akhirnya diketahui manusia.
2.
Epistemologi Pendidikan Matematika
Menurut
Haryono (2015) epistemologi merupakan cabang filsafat yang berhubungan dengan
pengetahuan matematika. Cabang ini menelaah mengenai dasar-dasar pengetahuan
matematika seperti sumber, hakikat, batas-batas dan ciri-ciri matematika yang
meliputi abstraksi, ruang dan waktu, besaran, simbolik, bentuk dan pola.
Berikut merupakan pengklasifikasian dari epistemologi pendidikan matematika.
a.
Metode
pendidikan matematika
Metode pembelajaran matematika
adalah suatu teknik atau cara menyampaikan
suatu materi matematika dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyajikan bahan
pelajaran kepada siswa. Sedangkan menurut Maesaroh (2013) metode merupakan
suatu alat dalam pelaksanaan pendidikan, yakni yang digunakan dalam penyampaian
materi tersebut. Ketepatan memilih metode pembelajaran akan mempengaruhi mudah
atau sulitnya siswa dalam memahami suatu materi yang dipelajari. Namun, jika metode
yang digunakan mudah dipahami, tepat dan menarik akan berdampak mudahnya siswa
memahami materi yang dipelajari. Metode pembelajaran yang biasanya digunakan
dalam pembelajaran matematika seperti metode ceramah, descovery, inkuiri,
penemuan terbimbing, dan sebagainya.
b.
Sumber-sumber
belajar matematika
Sumber belajar merupakan sarana
dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
diharapkan. Pemanfaatan sumber belajar dapat digunakan oleh seorang guru untuk
meningkatkan aktivitas atau kegiatan siswa, serta efektivitas dan efisiensi.
Secara khusus sumber belajar dapat dirancang dan dikembangkan sebagai komponen
sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar, serta untuk keperluan
pembelajaran, seperti buku teks atau bahan ajar, multi media, dan lain-lain. Sumber
belajar yang dapat dimanfaatkan oleh seorang guru dalam pembelajaran matematika,
seperti Bulu Teks, Lembar Kerja Siswa (LKS), Ensiklopedia, Buku Referensi Lain,
Majalah, Alat Peraga, Sumber Elektronik, dan Laboratorium Matematika.
Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam mengembangkan sumber belajar di kelas. Pertama, sumber belajar dibuat
sehingga dapat dipahami siswa. Misalnya sumber belajar yang lebih dikenal dalam
suatu daerah. Dalam belajar matematika, untuk meningkatkan kemampuan berhitung
dapat digunakan simpoa atau dekak-dekak. Untuk materi pengukuran, misalnya
menggunakan satuan-satuan yang lebih dikenal seperti pal, sukat, tumbak, depa,
jengkal, dan lain-lain. Kedua, sumber belajar dapat disajikan dengan berbagai
cara sehingga mudah dan dapat dilakukan siswa. Misalnya penanaman konsep volum benda
dengan menggunakan kubus satuan, penanaman konsep statistik seperti modus, mean
(rata-rata), rentang dengan melakukan kegiatan pengukuran berat badan siswa
pada suatu kelas, dan lainnya. Ketiga, sumber belajar dapat disesuaikan dengan
kondisi atau keadaan di lingkungan sekolah. Misalnya bahan ajar yang
menggunakan persoalan yang ada di lingkungan sekitar, misalnya mengukur tinggi badan,
menghitung luas daerah suatu ruangan, dan lain-lain.
H.
Aksiologi Pendidikan Matematika
1.
Pengertian Aksiologi
Aksiologi
berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang
berarti teori tentang nilai. Menurut Vardiansyah (2008) aksiologi merupakan
cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Sedangkan, Jalaluddin (2012) menyatakan bahwa aksiologi merupakan suatu bidang
dalam filsafat yang menyelidiki nilai-nilai. Nilai tersebut ada karena manusia
mempunyai bahasa yang dapat digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Dikatakan
mempunyai suatu nilai jika berguna, benar (logis), bermoral, dan etis. Jadi
yang ingin di capai oleh aksiologi adalah kemanfaatan yang terdapat dalam suatu
pengetahuan.
2.
Aksiologi Pendidikan Matematika
Aksiologi
pendidikan matematika secara filsafat dapat dikaji berdasarkan tujuan
pendidikan matematika di sekolah. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 24 Tahun 2016 tentang Standar Isi, disebutkan bahwa pembelajaran
matematika sekolah bertujuan agar para siswa memiliki kemampuan sebagai
berikut.
a)
Memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan
konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam
pemecahan masalah
b)
Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika.
c)
Memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d)
Mengomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas
keadaan atau masalah.
e)
Memiliki
sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin
tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya
diri dalam pemecahan masalah.
Berdasarkan tujuan pembelajaran matematika di sekolah di atas dapat
dikesimpulan bahwa nilai dari pembelajaran matematika adalah untuk membentuk
suatu karakter atau kepribadian seseorang berpikir matematis.
I.
Penutup
Berdasarkan
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan suatu ilmu yang mempelajari
mengenai sesuatu yang ada dan mungkin ada yang didasarkan pada pikiran atau
rasio. Sedangkan filsafat matematika merupakan pemikiran menyeluruh (reflektif)
dan kompleks terhadap persoalan-persoalan mengenai sesuatu hal yang berkaitan
dengan landasan dan dasar dari pengetahuan matematika serta hubungan matematika
di segala bidang kehidupan. Terdapat tiga aliran besar dalam matematima yaitu logisisme,
formalisme, dan intuitionisme. Ontologi adalah cabang dari
filsafat yang persoalan pokoknya apakah kenyataan atau realita. Ontologi
pendidikan matematika terdiri dari karakteristik dan perkembangan pendidikan
matematika. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menelaah mengenai
dasar-dasar pengetahuan matematika seperti sumber, hakikat, batas-batas dan
ciri-ciri matematika yang meliputi abstraksi, ruang dan waktu, besaran,
simbolik, bentuk dan pola. Epistemologi pendidikan matematika terdiri dari metode
pembelajaran matematika dan sumber belajar siswa. Sedangkan aksiologi merupakan
suatu bidang dalam filsafat yang menyelidiki nilai-nilai, dimana nilai tersebut
mampu memberikan manfaat dalam suatu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar.
(2004). Filsafat Ilmu dalam Pendidikan. Jakarta : CV. Reineka
Boaler,
J .(2002). Experiencing school mathematics traditional and reform
approachesto teaching and their impact on student learning: Revised and
Expandede Edition. London: Lawrence Erlbaum Associate publisher.
Chambers,
P. (2008). Teaching mathematics. London, UK: SAGE Publication.
Depdiknas. 2003. Standar
Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta:
Depdiknas.
Haryono, D. (2015). Filsafat Matematika: Suatu Tinjauan
Epistemologi dan Filosofis. Alfabeta: Bandung.
Heruman. 2013. Model
Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Marsigit. (2015). Filsafat Matematika
dan Praktis Pendidikan Matematika.Yogyakarta: UNY Press.
OECD. (2018). PISA 2015 result in
focus. Retrieved from www.oecd.org/pisa
Priatna, Nanang. (____). Pengembangan dan Pemilihan Sumber
Belajar. Bandung: FPMIPA UPI.
Siswono, T. Y. E. (2014). Permasalahan Pembelajaran Matematika dan
Upaya Mengatasinya.
Makalah disajikan pada Diskusi Panel dan Workshop Program Studi S2 Pendidikan
Matematika Pascasarjana Universitas Mahasaraswati Denpasar.
Soedjadi, R. (2000). Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta:
DirektoratJenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
Sukardjono. (2011). Hakekat dan Sejarah Matematika. In:
Hakikat Matematika. Universitas Terbuka, Jakarta, pp. 1-44
Sumardyono. (2004). Karakteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap pembelajaran
Matematika. Paket Pembinaan Penataran. Yogyakarta: PPPG Matematika.
Jalaluddin & Idi, Abdullah. (2012). Fillsafat Pendidikan:
Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Vardiansyah, Dani. (2008). Filsafat Ilmu Komunikasi:
Suatu Pengantar. Jakarta: Indeks.
No comments:
Post a Comment